Daftar Progam HAQIN

Husna, Kisah Perjalanan Bersama Abi Menuju AlQuran

Momen Husna dan Ayah saat pertama datang ke asrama

 “Abi, Terima Kasih Telah Mengantarku Kembali ke Pelukan Al-Qur’an”

Dulu, Husna pernah menghafal Al-Qur’an. Tapi kehilangan hafalan, membuat hatinya ikut kehilangan arah. Ada ruang kosong yang tak bisa diisi apa pun—kecuali kembali dekat dengan Al-Qur’an.

Itulah mengapa ia memilih untuk mondok di HAQIN Bandung, dengan niat yang dalam: mengembalikan kedekatan Husna dengan Al-Qur’an, seutuhnya.

Di balik keputusan besar itu, ada satu sosok luar biasa yang berdiri paling depan sebagai pendukung: Abi, ayahnya sendiri.

Bagi Abi, semua anaknya harus mendapatkan pendidikan terbaik baik dari sisi agama ataupun akademik. Abi selalu istikharah, agar anaknya berada di tempat terbaik menurut Allah. Dan kali ini, langkah itu mengantarkan Husna ke HAQIN.

Namun keterbatasan ekonomi membuat perjalanan ini tidak semudah orang lain. Mereka tidak bisa memilih moda transportasi paling nyaman, tapi mereka tetap melangkah.

Kisahnya berawal dari sebuah telepon, di bulan Ramadhan 1446 H, sekitar April lalu. Saat itu, Husna menelpon Umminya dari tempat ia menjadi musyrifah di sebuah yayasan di Kabupaten Lampung Selatan. Sedangkan keluarga tinggal di Lampung Timur.

Setelah berbicara dengan Ummi, Husna meminta ponsel diberikan kepada Abi. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan: bahwa ia ingin resign dari tempat mengajar yang sudah dua tahun ia jalani.

Abi sempat terdiam. “Mau ngapain pulang?” tanyanya.
Capek, Abi...” jawab Husna singkat. “Husna pengen cari suasana baru, pengalaman baru.”

Tapi Abi tak langsung setuju. “Apa lagi yang dicari, Nak? Di sana kamu sudah di tempat yang baik. Susah cari yang seperti itu...
Percakapan itu terhenti dengan rasa kecewa. Beberapa kali Husna menelepon lagi, hasilnya tetap sama. Sampai akhirnya Abi bertanya, “Sudah mutqin 30 juz?
Belum, Bi...” jawab Husna.
Abi pun menimpali, “Lho, kan belum mutqin... kenapa malah mau pulang?
Husna menjelaskan, “Susah, Bi... Husna juga sambil nyimak setoran ziyadah santri lain, jadi gak bisa fokus.”

Jawaban itu diam-diam tertanam dalam hati Abi.

Sekembalinya Husna ke rumah, ia belum tahu harus bagaimana. Tapi ternyata Abi mulai mencari informasi tempat belajar tahfizh untuk putrinya. Ia menyisir iklan-iklan pondok pesantren di media sosial. Menganalisis satu per satu, membuka profil pondok, mengecek latar belakang dan sistemnya.

Syarat Abi sederhana tapi tidak mudah: beasiswa penuh, pondok khusus akhwat, dan lingkungan yang benar-benar fokus pada tahfizh. Sebab keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak bisa sembarangan memilih.

Beberapa pesantren sudah dicoba. Husna ikut seleksi. Tapi di hati Abi, belum ada yang klik.

Sampai akhirnya, Abi menemukan satu nama: Hafizh Quran Indonesia (HAQIN). Ia membaca ulang profilnya, melihat testimoni santri, dan membandingkan dengan tempat lain. Meski jauh di Bandung, Abi merasa yakin inilah tempat yang tepat.

“Bi, ini di Bandung loh...” kata Husna ragu.
Abi menjawab mantap, “Ya gapapa, di mana pun itu, asal Husna serius.”
“Tapi Abi punya uang nggak?”
Abi tersenyum, “Ya enggak. Tapi Husna selesaikan dulu prosesnya. Urusan lainnya... Abi insyaAllah usahakan.”

Setelah interview akhir, Husna dinyatakan lulus di HAQIN. Tapi saat itu, kontraknya sebagai guru masih berjalan. Maka Abi langsung menghubungi pihak sekolah untuk meminta cuti. Abi tahu, ini saatnya putrinya kembali fokus pada Al-Qur’an.

Abi hanya seorang buruh harian di kantin sekolah. Bekerja jika dipanggil, dan saat itu sekolah sedang libur panjang. Tak ada pemasukan. Untuk makan sehari-hari pun mengandalkan sisa dari tahun ajaran baru. Apalagi untuk ongkos ke Bandung—tidak ada bayangan sama sekali.

Bagaimana ini, Bi? Gimana berangkatnya?” tanya Husna.
Abi menjawab, tenang seperti biasa: “Husna nggak perlu khawatir. Kalau niatnya lillahi ta’ala, Allah pasti beri jalan. Meskipun sekarang, Abi memang belum punya apa-apa.”

Akhirnya, Abi menyarankan Husna untuk menghubungi Mbah. Husna pun mengirimkan semua bukti kelulusan, lalu menelepon Mbah. “Sudah ada ongkos belum?” tanya Mbah.
Tak lama setelah itu, bantuan pun datang. Mbah bersedia membantu.

Saat tahu biaya keberangkatan sudah tertutup, senyum tersungging di wajah Abi. Tapi diam-diam matanya berkaca-kaca.
Masya Allah... Begitu dekat pertolongan Allah kepada hamba-Nya.”

Dari rumah ke Pelabuhan Bakauheni naik travel, menyeberang dengan kapal ke Merak, lanjut bis ke Bekasi, lalu ke Bandung, dan terakhir naik ojek online dari terminal ke asrama. Semua itu dilalui hanya berdua—Husna dan Abi.

“Ini tempat paling jauh yang pernah aku datangi seumur hidup,” ucap Husna. Tapi kehadiran ayah membuat segalanya terasa ringan.

Dan ada satu momen yang penulis saksikan sendiri—ketika Abi sedang mengurus administrasi di HAQIN. Saat ditawari voucer kebaikan untuk pembangunan pondok (yang bersifat sukarela), Abi dengan tenang mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Lalu berkata sambil tersenyum kecil:

 “ Nih, semoga bermanfaat yaaa. Gapapa lah saya mah... nanti pulang juga gampang kok.”

Kalimat itu mungkin terdengar ringan. Tapi di baliknya ada pengorbanan, keyakinan, dan cinta seorang ayah yang tak bisa dibalas dengan apapun.

Potret Husna bersama Ayah sebelum berpisah

Sebelum Abi pulang, Husna mendekat dan menggenggam tangan ayahnya. Tak banyak kata yang diucapkan, hanya permintaan dari seorang putrinya Abi... doakan Husna yaa...”

Abi nya tak menjawab panjang. Ia hanya diam sejenak, lalu menunduk dan mengangkat tangan, mengaminkan dengan suara pelan namun penuh keyakinan. Lalu punggungnya perlahan menjauh, meninggalkan Husna di gerbang awal perjuangan yang baru.

Sedih banget...” ucap Husna, mengingat momen itu.

Kalau hari ini diberi kesempatan bicara dari hati ke hati, Husna ingin berkata:

Terima kasih sudah jadi ayah terbaik bagi Husna dan adik-adik. Terima kasih atas semua pengorbanan—tenaga, waktu, dan segalanya.”